Kajian Tumpangsari Tanaman Tebu (Saccharum officinarum L.) dan Kedelai Edamame (Glycine max (L.) Merr.) dengan Metode Tanam Ringpit
DOI:
https://doi.org/10.54387/semnasbun.v1i1.204Keywords:
Edamame, Bagal Mata, Ringpit, Tebu, TumpangsariAbstract
Keterbatasan lahan pertanian mendorong diperlukannya optimalisasi pemanfaatan lahan melalui pola tanam tumpangsari. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaan bagal mata 3 dan bagal mata 4 terhadap pertumbuhan tebu (Saccharum officinarum L.) varietas PSDK 923 serta pertumbuhan dan hasil kedelai edamame (Glycine max (L.) Merr.) pada sistem tumpangsari metode tanam ringpit, serta menentukan perlakuan bagal mata terbaik. Penelitian dilaksanakan di Kebun Praktik Politeknik LPP Yogyakarta pada bulan Desember 2025 sampai Februari 2026. Metode eksperimen yang digunakan membandingkan dua perlakuan bagal mata tebu (B3 dan B4) pada petak tumpangsari metode ringpit, dengan sampel tebu sebanyak 36 hole per perlakuan serta sampel edamame sebesar 10% dari populasi (204 hole pada B3 dan 136 hole pada B4). Analisis data menggunakan uji-t dua sampel bebas dan uji korelasi Pearson pada taraf α = 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa persentase tanaman hidup tebu tidak berbeda nyata antarperlakuan, namun bagal mata 3 menghasilkan pertumbuhan vegetatif tebu yang secara nyata lebih tinggi dibandingkan bagal mata 4 pada parameter tinggi tanaman (167,68 cm vs 154,20 cm pada 11 MST), diameter batang (2,38 cm vs 2,22 cm), jumlah daun (12,00 helai vs 9,94 helai), dan jumlah ruas (10,52 vs 9,87). Pada tanaman edamame, perlakuan bagal mata 3 memberikan jumlah polong per lubang (45,82 vs 42,17) dan bobot 100 polong (0,38 kg vs 0,34 kg) yang secara nyata lebih tinggi, meskipun jumlah cabang lebih tinggi pada bagal mata 4 (19,42 vs 18,45). Uji korelasi menunjukkan jumlah ruas, jumlah daun, dan diameter batang tebu berkorelasi positif sangat kuat dengan jumlah polong dan bobot 100 polong edamame. Disimpulkan bahwa penggunaan bagal mata 3 memberikan pertumbuhan tebu dan hasil edamame terbaik pada sistem tumpangsari metode ringpit.
References
Amiroh. (2019). Kajian perbanyakan bibit tebu (Saccharum officinarum L.) menggunakan metode penanaman satu mata (single bud planting). Agritrop: Jurnal Ilmu-Ilmu Pertanian, 17(1), 22–31.
Anwar, K., Redjeki, S., & Budi, S. (2021). Perbedaan pertumbuhan dan hasil tiga klon tanaman tebu (Saccharum officinarum L.) pada tanah aluvial di Desa Sambiroto Kecamatan Sooko-Mojokerto. Jurnal Tropicrops, 4(1), 1–10.
Arofik, Z., Umarie, I., & Suroso, B. (2014). Respons kedelai terhadap pembuangan daun tebu dan penyiangan gulma pada sistem tumpangsari tebu-kedelai di lahan tebu. Agritrop: Jurnal Ilmu-Ilmu Pertanian, 12(1), 45–53.
Choirunnisa, J. P., Ariefin, M. N., Astuti, T., Taopan, R. A., Liana, D., Adi, D. D., Knaofmone, E., Wahyu, Y., Jelatu, S., Mulu, M., & Rofita, D. (2025). Budidaya tanaman semusim dengan pola tanam tumpangsari sebagai langkah optimalisasi lahan di Kelurahan Laci Carep, Kabupaten Manggarai. PengabdianMu: Jurnal Ilmiah Pengabdian kepada Masyarakat, 10(7), 1669–1678. https://doi.org/10.33084/pengabdianmu.v10i7.9390
Dulbari, Priyadi, Ahyuni, D., & Marliyana, R. D. (2024). Pengaruh mulsa dan jarak tanam terhadap pertumbuhan dan hasil kedelai edamame (Glycine max (L.) Merr.). Daun: Jurnal Ilmiah Pertanian dan Kehutanan, 11(1), 12–23.
Fan, Y., Chen, J., Cheng, Y., Raza, M. A., Wu, X., Wang, Z., Liu, Q., Wang, R., Wang, X., Yong, T., Liu, W., Liu, J., Du, J., Shu, K., Yang, W., & Yang, F. (2018). Effect of shading and light recovery on the growth, leaf structure, and photosynthetic performance of soybean in a maize-soybean relay-strip intercropping system. PLOS ONE, 13(5), e0198159. https://doi.org/10.1371/journal.pone.0198159
Hakim, N. A. (2013). Perbedaan kualitas dan pertumbuhan benih edamame varietas Ryoko yang diproduksi di ketinggian tempat yang berbeda. Jurnal Penelitian Pertanian Terapan, 13(3), 161–168.
Hanafi, M., Sukariawan, A., Rahutomo, S., & Sakiah, S. (2025). Variasi dosis pupuk bioneensis pada tanaman kedelai edamame (Glycine max (L.) Merril) yang ditanam secara tumpangsari di areal tanaman karet. Tabela: Jurnal Pertanian Berkelanjutan, 3(1), 32–37.
Henwis, M., & Hartatie, D. (2019). Pengaruh berbagai jumlah mata tunas pada pertumbuhan tebu (Saccharum officinarum L.) varietas Bululawang. Agropross: National Conference Proceedings of Agriculture, 3, 96–100.
Jumrani, K., & Bhatia, V. S. (2020). Influence of different light intensities on specific leaf weight, stomatal density, photosynthesis and seed yield in soybean. Plant Physiology Reports, 25(2), 277–283. https://doi.org/10.1007/s40502-020-00508-6
Khuluq, A. D., & Hamida, R. (2016). Taksasi produksi mata tunas sebagai benih tebu (Saccharum officinarum L.) dengan pendekatan analisa regresi. Buletin Tanaman Tembakau, Serat & Minyak Industri, 8(1), 15–24.
Kusumawati, A., & Ismail, M. R. I. (2023). Analisa faktor pembatas pertumbuhan tebu (Saccharum officinarum L.) di Cangkringan, Yogyakarta. AGROISTA: Jurnal Agroteknologi, 6(2), 93–100. https://doi.org/10.55180/agi.v6i2.321
Natarajan, S., et al. (2020). Limited contribution of water availability in genotype-by-environment interaction in sugarcane yield and yield components. Journal of Agronomy and Crop Science, 206(4), 450–462. https://doi.org/10.1111/jac.12407
Nizar, A., & Purnomo, D. (2017). Pengujian beberapa varietas kedelai pada sistem tumpangsari kedelai dan tebu terhadap produksi kedelai. Jurnal Triton, 8(1), 77–84.
Oktami. (2016). Perbandingan pertumbuhan jumlah mata tunas bibit bagal tebu (Saccharum officinarum L.) varietas GMP2 dan GMP3. Jurnal Agro Industri Perkebunan, 4(1), 21–30.
Patel, D., & Patel, R. (2018). Influence of sett size, seed rate and sett treatment on yield and quality of sugarcane. The Bioscan, 13(2), 511–516.
Raja Babu, C., Rajanbabu, V., Balaji, T., Masilamani, P., Jasmine, R. S., & Nageswari, R. (2025). Evaluation of different planting methods for sustainable sugarcane production: A comprehensive review. Plant Science Today, 12(1), 105–115. https://doi.org/10.14719/pst.6205
Rana, L., Kumar, N., Rajput, J., Kumar, A., Nalia, A., & Singh, A. K. (2023). Planting methods enhanced the cane yield and input use efficiency in sugarcane - An overview. International Journal of Bio-Resource and Stress Management, 14(10), 1448–1453. https://doi.org/10.23910/1.2023.4791c
Rifai, A., Basuki, S., & Utomo, B. (2014). Nilai kesetaraan lahan budidaya tumpangsari tanaman tebu dengan kedelai: Studi kasus di Desa Karangharjo, Kecamatan Sulang, Kabupaten Rembang. Widyariset, 17(1), 59–70.
Sofyan, A., et al. (2022). Pertumbuhan dan hasil kedelai edamame setelah aplikasi petrhikaphos dikombinasikan pupuk kandang ayam pada tanah gambut. Agrovigor: Jurnal Agroekoteknologi, 15(2), 110–118.
Umarie, I., & Holil, M. (2016). Potensi hasil dan kontribusi sifat agronomi terhadap hasil tanaman kedelai (Glycine max (L.) Merril) pada sistem tumpangsari tebu-kedelai. Agritrop, 14(1), 1–11. https://doi.org/10.32528/agr.v14i1.402
Umarie, I., Widiarti, W., Oktarina, Nurhadiansyah, Y., & Budiawan, A. (2021). Karakteristik fisiologi tanaman kedelai pada perlakuan frekuensi penyiangan dan pengendalian hama pada tumpangsari tebu-kedelai. Agro Bali: Agricultural Journal, 4(2), 177–191.
Yadav, R. L. (2004). Enhancing efficiency of fertilizer N use in sugarcane by ring-pit method of planting. Sugar Tech, 6(3), 115–119. https://doi.org/10.1007/BF02942719
Yadav, R. L., & Kumar, R. (2005). On-farm comparison of ring-pit and conventional flat planting methods for yield and quality of sugarcane in northwest India. The Indian Journal of Agricultural Sciences, 75(9), 563–567.
Zaini, A. H., Baskara, M., & Wicaksono, K. P. (2017). Uji pertumbuhan berbagai jumlah mata tunas tebu (Saccharum officinarum L.) varietas VMC 76-16 dan PSJT 941. Jurnal Produksi Tanaman, 5(2), 241–248.
Downloads
Published
Issue
Section
Citation Check
License
Copyright (c) 2026 Anang Ma’ruf Pratama, Retno Muningsih

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.


