Pertumbuhan dan Produktivitas Tanaman Pangan pada Kelapa Sawit TBM 1–3 untuk Pemanfaatan Lahan Berkelanjutan

Authors

  • Muhammad Rizwan Program Studi Agroteknologi, Fakultas Pertanian, Universitas Islam Sumatera Utara, Medan, Indonesia
  • Indra Gunawan Program Studi Agroteknologi, Fakultas Pertanian, Universitas Islam Sumatera Utara, Medan, Indonesia
  • Nurhayati Program Studi Agroteknologi, Fakultas Pertanian, Universitas Islam Sumatera Utara, Medan, Indonesia

DOI:

https://doi.org/10.54387/semnasbun.v1i1.199

Keywords:

kelapa sawit, tanaman pangan, tumpangsari, produktivitas lahan, keberlanjutan

Abstract

Fase tanaman belum menghasilkan (TBM) pada perkebunan kelapa sawit merupakan periode yang cukup panjang sebelum memasuki fase menghasilkan. Selama periode ini, ruang antarbarisan masih relatif terbuka dan berpeluang dimanfaatkan untuk tanaman pangan, sehingga dapat mendukung optimalisasi lahan dan diversifikasi produksi. Artikel ini bertujuan mengkaji potensi pemanfaatan areal TBM 1–3 untuk tanaman pangan berdasarkan perkembangan lingkungan tumbuh, respons pertumbuhan dan hasil, serta implikasinya terhadap keberlanjutan sistem perkebunan. Kajian dilakukan melalui studi literatur dengan menggunakan publikasi periode 2021–2025 sebagai sumber utama. Penelitian terdahulu digunakan sebagai data pembanding dan dasar historis. Literatur disintesis untuk mengkaji perubahan lingkungan tumbuh akibat perkembangan umur dan tajuk kelapa sawit, terutama intensitas cahaya serta kompetisi air dan unsur hara. Analisis juga mempertimbangkan pengaruh varietas, pemupukan, dan pengaturan ruang tumbuh terhadap tanaman sela. Hasil sintesis menunjukkan bahwa jagung dan kedelai merupakan tanaman pangan yang potensial dikembangkan pada fase TBM 1–3. Keberhasilan budidaya sangat dipengaruhi umur kelapa sawit, tingkat naungan, varietas, pemupukan, dan pengaturan ruang tumbuh. Kedelai masih dapat dikembangkan pada kondisi naungan sekitar 40% pada sawit TBM-2. Integrasi jagung dengan sawit belum menghasilkan tidak menunjukkan pengaruh negatif nyata terhadap pertumbuhan sawit selama periode pengamatan. Namun, peningkatan perkembangan tajuk dari TBM-1 hingga TBM-3 menyebabkan perubahan ketersediaan cahaya dan kompetisi yang memerlukan pengelolaan adaptif. Dengan demikian, TBM 1–3 merupakan jendela produksi pangan dinamis yang dapat meningkatkan efisiensi lahan, diversifikasi ekonomi, dan keberlanjutan agroekosistem apabila tanaman pangan dikelola sebagai komponen pendukung, bukan pesaing kelapa sawit secara terencana sesuai kondisi lingkungan tumbuh setempat.

References

Alhaviz, A., Hariyadi, H., & Supijatno, S. (2021). The effect of fertilizer treatment on the morphology of maize (Zea mays) planted in an intercropping system in the immature oil palm plantation. Journal of Tropical Crop Science, 8(3), 187–194. https://doi.org/10.29244/jtcs.8.03.187-194

Munévar-Martínez, D. E., Ruiz-Álvarez, E., Estupiñán-Villamil, M. C., & Mosquera-Montoya, M. (2025). Sustainable intensification of oil palm production through integration with other crops: A review. OCL—Oilseeds and Fats, Crops and Lipids, 32, 31. https://doi.org/10.1051/ocl/2025022

Nuraisah, A., Suherman, C., Ariyanti, M., Nuraini, A., & Soleh, M. A. (2019). Pertumbuhan, hasil dan karakter fisiologis padi yang diberi pupuk hayati pada pertanaman kelapa sawit belum menghasilkan I. Kultivasi, 18(3), 1004–1009. https://doi.org/10.24198/kultivasi.v18i3.21183

Sarwendah, M. (2015). Kajian pertumbuhan dan hasil beberapa tanaman sela sistem tumpangsari pada kawasan perkebunan kelapa sawit TBM 3 [Master's thesis, Universitas Gadjah Mada].

Sitorus, R., & Zasari, M. (2023). Identification and economic contribution of intercrops to the income of oil palm farmers on Bangka Island. Equity: Jurnal Ekonomi, 11(1), 18–25. https://doi.org/10.33019/equity.v11i1.135

Suherman, C., Indri, F., Rosniawaty, S., & Arief, M. (2022). Oil palm (Elaeis guineensis Jacq.) shaded model at immature stage II and application of arbuscular mycorrhizal fungi (AMF) on growth and yields of soybean (Glycine max (L.) Merrill). Sains Malaysiana, 51(10), 3183–3194. https://doi.org/10.17576/jsm-2022-5110-06

Suherman, C., Nuraini, A., Batu, Y. L., & Soleh, M. A. (2019). Utilize open space of oil palm (Elaeis guineensis Jacq.) plantation at immature stages for growing maize (Zea mays L.) which is applied biofertilizer. IOP Conference Series: Earth and Environmental Science, 334, 012027. https://doi.org/10.1088/1755-1315/334/1/012027

Suherman, C., Maxiselly, Y., Nuraini, A., Soleh, M. A., & Maulana, H. (2025). Growth characteristics and sustainability index at different development stages of immature oil palm under mono- and intercropping systems. Journal of Oil Palm Research, 37(2), 338–346. https://doi.org/10.21894/jopr.2024.0022

Wahyu, G. A. S., & Mutmaidah, S. (2022). Kelayakan teknis dan finansial budidaya kedelai naungan tanaman kelapa sawit di Sumatera Utara. Buletin Agritek, 3(1), 35–52.

Yin, W., Chai, Q., Zhao, C., Yu, A., Fan, Z., Hu, F., & Coulter, J. A. (2020). Water utilization in intercropping: A review. Agricultural Water Management, 241, 106335. https://doi.org/10.1016/j.agwat.2020.106335

Yuliani, N., Sabur, A., & Napisah, K. (2021). Soybean as ground cover plant and intercrop in immature oil palm plantation. E3S Web of Conferences, 306, 05011. https://doi.org/10.1051/e3sconf/202130605011

Downloads

Published

2026-09-28

Citation Check