"Sesama Pohon, Berbeda Peran": Kontestasi Makna Sawit dan Deforestasi melalui Narasi Media Sosial dan Resepsi Publik di Instagram Kiyau Indonesia
DOI:
https://doi.org/10.54387/semnasbun.v1i1.177Keywords:
Kelapa sawit, Komunikasi lingkungan, Kontestasi makna, Media sosial, Resepsi publikAbstract
Di tengah menguatnya narasi global yang mengaitkan kelapa sawit dengan deforestasi, media sosial berkembang menjadi ruang publik tempat berbagai aktor membangun, mempertahankan, dan memperdebatkan makna mengenai keberlanjutan perkebunan. Sebagai platform pendidikan kontekstual multidisiplin yang berfokus pada isu pertanian, lingkungan, dan pemberdayaan masyarakat, Kiyau Indonesia menghadirkan narasi alternatif yang memandang deforestasi tidak semata-mata sebagai konsekuensi dari komoditas kelapa sawit, melainkan sebagai persoalan tata kelola, kebijakan, dan praktik pembangunan yang belum berkelanjutan. Penelitian ini bertujuan menganalisis bagaimana narasi tersebut dibangun serta bagaimana publik merespons dan memaknainya melalui interaksi di Instagram Kiyau Indonesia. Penelitian menggunakan metode kualitatif eksploratif dengan pendekatan etnografi digital. Data diperoleh dari lima unggahan video Instagram dengan jumlah penayangan tertinggi yang secara khusus membahas isu sawit dan deforestasi selama April–Juni 2026, dilengkapi dengan analisis caption, dokumentasi, dan komentar publik. Analisis narasi media dilakukan menggunakan semiotika Roland Barthes, sedangkan resepsi publik dianalisis melalui teori encoding-decoding Stuart Hall untuk mengidentifikasi bentuk penerimaan, negosiasi, dan penolakan terhadap pesan yang disampaikan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Kiyau Indonesia secara konsisten membangun narasi yang menempatkan isu deforestasi dalam konteks tata kelola perkebunan, hilirisasi yang belum optimal, kebijakan pemanfaatan lahan, dan pengelolaan lingkungan, sehingga menggeser perdebatan dari persoalan komoditas menuju persoalan tata kelola. Analisis resepsi publik memperlihatkan enam pola utama, yaitu penerimaan terhadap narasi alternatif, dukungan terhadap kebijakan pemerintah, penolakan yang tetap memosisikan kelapa sawit sebagai penyebab utama deforestasi, kritik terhadap pemerintah dan aktor industri, interpretasi berbasis keahlian, serta kritik terhadap kebijakan hilirisasi dan pembangunan perkebunan. Temuan ini menunjukkan bahwa Instagram tidak hanya berfungsi sebagai media diseminasi informasi, tetapi juga sebagai arena kontestasi makna lingkungan yang memperlihatkan bagaimana isu sawit, deforestasi, dan keberlanjutan terus diproduksi, dinegosiasikan, dan diperdebatkan oleh publik. Penelitian ini memperkaya kajian komunikasi lingkungan digital dengan menunjukkan bahwa transformasi perkebunan tidak hanya ditentukan oleh inovasi teknologi dan kebijakan, tetapi juga oleh kemampuan membangun komunikasi publik yang kontekstual, dialogis, dan berbasis literasi lingkungan.
References
Amali, A. R., & Priatna, W. B. (2025). Peran Kampanye Digital Di Instagram @Rekamnusantara Dalam Meningkatkan Partisipasi Publik. In Journal Media Public Relations (Vol. 5, Number 1).
Ariestyani, K., & Ramadhanty, D. A. (2022). Khalayak Media Sosial: Analisis Resepsi Stuart Hall Pada Kesehatan Seksual Orang Muda Social Media Audiences: A Reception Analysis Of Stuart Hall On Youth Sexual Health. Jurnal Konvergensi, 3(2). Https://Id.Linkedin.Com/Company/Tabu-Id
Dian Maharani, Hasea Sabam Simanjuntak, Nailah Cahyani, Rowimatul Hazizah, & Yuliana Sari. (2025). Makna Dalam Era Digital: Kajian Semantik Terhadap Bahasa Di Media Sosial Indonesia. Jejak Digital: Jurnal Ilmiah Multidisiplin, 1(4), 841–862. Https://Doi.Org/10.63822/Capxn478
Fadli, A., & Sazali, H. (2023). Peran Media Sosial Instagram @Greenpeaceid Sebagai Media Kampanye Dalam Menjaga Lingkungan. Jurnal Ilmu Komunikasi Uho : Jurnal Penelitian Kajian Ilmu Komunikasi Dan Informasi, 8(2), 209–222. Https://Doi.Org/10.52423/Jikuho.V8i2.32
Heryadi, H. (2025). Analisis Isu Keberlanjutan Dalam Pemberitaan Minyak Sawit Di Indonesia. Edutech, 24(1), 558–570. Https://Doi.Org/10.17509/E.V24i1.80459
Hikmawati, F. (2020). Metode Penelitian. Rajawali Pers.
Junaidi, A., & Syaifulrahman, B. (2022). Strategi Komunikasi Penggunaan Instagram Dalam Meningkatkan Kesadaran Masyarakat Akan Krisis Iklim. Koneksi, 6(2).
Mamahit, J. E., & Pratiwi, A. (2022). Instagram Sebagai Media Alternatif Dalam Konflik Agraria (Studi Kasus Pada Akun Instagram @Forumpancoranbersatu). Ekspresi Dan Persepsi : Jurnal Ilmu Komunikasi, 5(2), 191–200. Https://Doi.Org/10.33822/Jep.V5i2.4382
Masriyah, M. A., & Sukma Alam. (2026). Pemaknaan Konten Media Sosial Tentang Sumber Daya Alam Papua Di Akun Instagram @Natgeoindonesia. Caraka : Indonesia Journal Of Communication, 7(1), 42–53. Https://Doi.Org/10.25008/Caraka.V7i1.284
Miles, M. B., & Huberman, A. M. (2014). An Expand Sourcebook Qualitative Data Analysis. Sage Publication.
Murdiyanto, E. (2020). Metode Penelitian Kualitatif (Sistematika Penelitian Kualitatif). In Bandung: Rosda Karya. Http://Www.Academia.Edu/Download/35360663/Metode_Penelitian_Kualitaif.Docx
Nurbani, & Sabilla Tri Ananda. (2020). Aktivisme Sosial Mengenai Isu Lingkungan Hidup Di Instagram (Studi Kasus Pada Mahasiswa Komunitas Pecinta Alam Di Medan). Talenta Conference Series: Local Wisdom, Social, And Arts (Lwsa), 3(1). Https://Doi.Org/10.32734/Lwsa.V3i1.803
Downloads
Published
Issue
Section
Citation Check
License
Copyright (c) 2026 Erfina Aisyah, Akhyar Rafi'i, Nurul Azkia

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.


